Jabarkukeren.id – BANDUNG – Di bawah kabut tipis kawasan Pangalengan yang menusuk tulang, seorang pemuda tegap tampak sigap mencermati data di tangannya. Ia bukan sedang melakukan proyek konstruksi sipil biasa, melainkan tengah mempersiapkan diri untuk sebuah misi negara yang krusial.
Ia adalah Taufik Daniel, S.T., lulusan perdana Program Studi Teknik Geomatika, Fakultas Teknik, Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI). Baru saja merayakan kelulusannya pada wisuda November 2025 lalu, Daniel kini memikul tanggung jawab besar sebagai bagian dari Satgas Yonif 315/Garuda yang akan bertolak ke wilayah rawan, Intan Jaya, Papua.

Strategi Smart Power dan Komando HABEMA
Penugasan Daniel bukan sekadar patroli keamanan biasa. Ia tergabung dalam Satgas HABEMA—akronim dari Harus Berhasil Maksimal. Ini adalah Komando Operasi Gabungan TNI yang dirancang khusus untuk menangani dinamika di Tanah Papua dengan mengintegrasikan strategi smart power.
Strategi ini menggabungkan soft power, hard power, dan diplomasi militer secara presisi. Di sinilah keahlian spesifik Daniel sebagai sarjana Teknik Geomatika menjadi instrumen vital. Dalam medan tempur modern yang kompleks, data spasial adalah mata bagi para komandan lapangan.

Tahapan Pratugas: Menempa Fisik dan Logika
Sejak Desember 2025, Daniel telah menjalani rangkaian latihan pratugas yang intensif. Jadwal ketat telah menantinya:
- 16 Januari 2026: Memulai fase pemantapan di Pangalengan, sebuah simulasi medan dengan elevasi dan cuaca yang menantang.
- Tahap Lanjutan: Latihan akan bergeser ke Batujajar, pusat penggodaan prajurit pilihan, untuk memastikan kesiapan mental dan taktis sebelum diterjunkan sebagai Satgas Pamtas Mobile di Intan Jaya.
Geomatika sebagai Decision Support System
Kehadiran Daniel di Satgas Yonif 315 membawa dimensi baru dalam operasi militer. Keahliannya dalam Akuisisi Data, Pengolahan, dan Analisis Geospasial menjadi aset strategis.
Kol. (Purn.) Dr. Ir. Sukanto Hadi, M.T., Ketua Program Studi Teknik Geomatika UNJANI, menyatakan rasa bangganya atas pencapaian alumni pertamanya tersebut. Menurutnya, ilmu geomatika bukan sekadar pemetaan, melainkan sistem pendukung keputusan yang fundamental.
“Saya bangga atas kepercayaan negara kepada Taufik Daniel. Ini adalah wadah mengaplikasikan ilmu geomatika secara nyata. Analisis geospasial yang akurat akan sangat berguna bagi Komandan Lapangan sebagai Decision Support System (DSS) dalam mengambil keputusan strategis di medan sulit seperti Papua,” ujar Dr. Sukanto Hadi.
Beliau menambahkan bahwa penugasan ini menjadi tolok ukur keberhasilan prodi dalam mencetak lulusan yang relevan dengan kebutuhan pengguna di lapangan, termasuk dalam sektor pertahanan dan keamanan nasional.

Menjaga Kedaulatan dengan Presisi
Bagi Taufik Daniel, tugas ke Papua adalah manifestasi dari janji alumni Unjani: berbakti pada nusa dan bangsa. Nama “Habema” yang diambil dari danau tertinggi di kaki Gunung Trikora seolah menjadi pengingat bahwa tugas ini menuntut standar tertinggi—setinggi puncak-puncak Papua yang akan ia petakan demi keamanan kedaulatan NKRI.
Dengan semangat yang membara dan bekal keilmuan yang mumpuni, Daniel siap membuktikan bahwa teknologi geospasial adalah kunci dalam memenangkan misi dengan efisiensi tinggi dan risiko yang terukur.

Selamat bertugas, Taufik Daniel, S.T. Jaga semangat, raih keberhasilan maksimal!
